Ijen, The Unforgettable Moment

Hari ini saya ngeblog lagi setelah kemarin-kemarin (baca: bulan lalu) janji mau rajin blogging. Niatnya mau post cerita ini jauh-jauh hari, idenya pun sudah lama berputar-putar di kepala, tapi setiap kali mau mulai nulis, ehh… malah bingung mulai nulis dari mana. Jadilah saya bengong di depan laptop. Sebenarnya saya lagi ketagihan sama mobile photography dan saya lebih sering menghabiskan kehidupan di alam maya di tempat ini. Check out and feel free to follow me yahhh ๐Ÿ˜‰

IMG_6925

Ini tentang kejadian awal Juni kemarin. Sudah lama sekali kan? Kalau kata teman saya ibarat kue pasti sudah basi. Heheh. Tapi saya tetap ingin menulisnya di blog ini because I think this is the unforgettable and unbelievable story for me. Bagaimana tidak, 1 Juni kemarin tidak angin tidak hujan, saya tiba-tiba naik gunung. Seumur-umur saya tidak pernah berpikir untuk naik gunung. Memimpikan untuk bisa bermimpi naik gunung saja tidak pernah. Bahkan setelah jatuh hati oleh keindahan Ranukumbolo pasca menonton film 5 cm tidak serta merta membuat saya memasukkan gunung dalam list jalan-jalan saya. Saya cukup tahu diri dengan kondisi fisik saya yang ibarat ditiup angin sedikit saja sudah mau tumbang. Maka dalam kamus saya naik gunung rasa-rasanya tidak mungkin. Tapi toh semuanya saya langgar, saya akhirnya naik gunung. huahahahย  ๐Ÿ˜ˆ #ketawasetan. Nah cerita ini berawal dari rencana jalan-jalan teman-teman satu lembaga kursus sewaktu di saya masih di Pare, Kediri. Destinasi jalan-jalan kami batal karena sesuatu dan lain hal dan diganti dengan trekking ke gunung Ijen. Awalnya saya sempat ragu untuk ikut, takut celaka di gunung. Hehehe. Tapi, dasar saya memang plin plan, saya akhirnya memutuskan ikut di menit-menit terakhir. ๐Ÿ˜€

Gunung Ijen adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kab. Banyuangi, Jawa Timur dengan ketinggian 2.443 mdpl dan telah 4 kali meletus. Apa yang sebenarnya kami cari di puncak Ijen? Ijen memiliki kawah yang merupakan danau kawah terbesar di dunia. Karena proses letusan gunung Ijen terbentuklah sebuah kawah yang dipenuhi air berwarna hijau tosca dan ber-pH sangat asam serta mengandung belerang. Blue fire atau api biru adalah daya tarik untuk datang ke Ijen dimana fenomena ini hanya ada dua di dunia, di Ijen, Indonesia dan di Islandia. Api biru hanya bisa dilihat setelah matahari terbenam hingga dini hari sebelum matahari terbit.

DSC_0560

Kami menuju ke pos pendakian melalui Bondowoso dan berakhir di Paltuding. Jangan tanya saya detail jalurnya yah, bisa dipastikan saya tidak tahu apa-apa ๐Ÿ˜‰ Kami tiba di pos Paltuding ketika jarum jam mulai bergerak ke angka 9. Gelap dan dingin menggigit tipe pegunungan. Beberapa orang berkumpul di mengitari api unggun untuk menghangatkan diri. Saya melipir masuk ke ELF setelah mendapat sebuah syal, tak kuat menahan dingin. Dingin yang sampai ke tulang belulang mengalahkan saya untuk menikmati indahnya langit dengan bintang-bintangnya malam itu, bahkan sorakan orang-orang di luar yang beberapa kali melihat bintang jatuh tak membuat saya beranjak keluar dari ELF. Saya memaksa memejamkan mata yang sebenarnya tidak mau terpejam. Kami akan memulai mendaki pukul 3 dini hari. Sebenarnya pendakian biasanya dimulai pukul 23.00, namun karena aktivitas gunung Ijen meningkat maka pendakian hanya diperbolehkan diatas pukul 03.00 dini hari. Bagaimana rupa Ijen yang sebentar lagi akan saya daki masih abu-abu. Hal apa yang menunggu kami di puncak sana? Bagaimana medan yang akan kami lalui? Berapa lama pendakian hingga sampai ke puncak? Dan apakah saya bisa sampai ke puncak? Menurut bapak-bapak yang sempat kami kepoin di dekat pos penjagaan, lama pendakian berbeda-beda untuk tiap orang. Ada pemula tapi toh bisa sampai ke puncak selang sejam kemudian, ada pula yang hanya jalan 10 meter saja sudah ngos-ngosan dan minta berhenti. Namun, yang jelasnya untuk melihat blue fire yang hanya ada dua di dunia itu, kami harus berjalan sejauh 3 km.

Perjalanan trekking ke kawah Ijen dimulai. Awal-awal jalannya masih berupa paving, enak sekali kalau jalan begini, tapi ternyata pavingnya cuma 100 meteran pemirsaaahhhh, habis itu jalannya tanah naik, naik dan naik lagi dengan tekstur berpasir. Semakin jalan rasa-rasanya semakin menanjak saja. Akhirnya saya menyerah dan teriak minta break, slonjoran, tegak air mineral, ngatur napas. Kalau berencana ke sini sebaiknya rutin jogging dulu gih jauh-jauh hari buat latihan ngatur napas. Ngos-ngosannya berasa sekali buat saya yang jarang (baca: tidak pernah) berolah raga, sedikit-sedikit keabisan napas, sedikit-sedikit minta break dan bisa dipastikan setiap melewati satu tanjakan sayalah yang paling pertama ngeluh minta istirahat. ๐Ÿ˜€ Justru semakin sering berhenti istirahat malah akan semakin berasa capeknya. Saya masih ingat dengan pesan bapak penambang kala saya selonjoran di tepi tebing berusaha mengumpulkan napas. โ€œAyo, jangan terlalu lama berhenti, jalannya nda usah cepat, pelan saja yang penting jalan.โ€

Saya sempat melirik bapak tadi, samar-samar dibawah cahaya senter. Ia berpakaian tebal, bertopi kupluk dengan keranjang ditenteng di bahunya, jalannya enteng bahkan di tanjakan sekalipun. Saya bertanya kepada si bapak โ€œPak, kawahnya masih jauh nggak?.โ€

โ€œSebentar lagi.โ€ Mendengar kata โ€˜sebentar lagiโ€™ rasanya seperti ada embun sejuk masuk ke ubun-ubun, lalu sepasang sayap muncul di punggung dan berkepak-kepak. Yaeelahhh (oke, saya kebanyakan lebay pada bagian ini) O_o

Lalu si bapak melanjutkan dengan logat jawanya yang kental. โ€œSebentar lagi ada kantin, ini baru seperdua jalannya, sampeyan bisa ngopi-ngopi dulu di kantin.โ€ Huhuhu, ternyata si bapak juga joga PHP-in orang ๐Ÿ˜ฅ Sampai di Pondok Bunder mana bisa ngopi Pak, lah kantinnya saja belum buka.

IMG_6944

Sepanjang jalan 3 km menuju kawah memang didominasi oleh tanjakan demi tanjakan yang kemiringannya antara 35-40 derajat. Satu kilometer pertama jalannya lumayan tidak menyiksa. Nah, memasuki kilometer kedua disini jalur neraka dimulai,hehhe, jalanan mulai menanjak dan semakin berkelok hingga tiba di Pos Bunder. Pos ini adalah kantin yang bapak penambang tadi bilang. Setelah melewati Pos Bunder, masih ada tanjakan yang tersisa, namun hanya sekitar 100 meter saja. Sisanya adalah jalan landai hingga ke bibir kawah.

Well, saya akan mengajak kalian untuk flash back satu hari sebelumnya di Baluran.

Ceritanya saat perjalanan ke savana Bekol di Baluran kami dihadang oleh tiga bule yang lagi manggul ransel segede kulkas. Tenang, si bule-bule ini tidak malak kita, kok. Heheh. Mereka cuma mau minta tumpangan sampai di Bekol. Karena kasihan sama si bule-bule ini yang sudah seperti kepiting rebus berjalan di bawah sinar matahari, kami berilah mereka tumpungan (*ngeless padahal excited satu tumpangan sama orang barat.huahahah ๐Ÿ˜€ ). Kita kepoin lagi nih bule-bule ini. Ternyata mereka dari kampung halaman Masya and the Bear, Rusia. Mereka cerita kalau mereka tinggal di dekat pegunungan yang seingat saya namanya bikin keseleo lidah (padahal lupa namanya apa. heheh). Catat yah, si bule ini pasti anak gunung. Nah, tibalah giliran kami bercerita kalau kami akan naik Ijen untuk melihat blue fire yang konon hanya ada dua di dunia. โ€œYou must visit that place, mister. Itโ€™s very highly recommended.โ€ ๐Ÿ˜Ž #pasangmukameyakinkan. Ehhh, ehh…, usut punya usut ternyata si mister ini sudah ke Ijen sebelum ke Baluran. Hueedehhh ๐Ÿ˜ณ Kalau ini acara tv, kita pasti sudah ada di reality show yang suka ngerjain orang itu. Lalu dia cerita kalau dia merasa sangat beruntung masih bisa melihat blue fire sampai pukul 5 dini hari. Berhubung diantara kami belum ada satu pun ke Ijen maka bertanyalah kami tentang medan yang dilalui saat trekking ke puncak Ijen dan tahukah kalian jawaban si mister ini apa? Dengan mantap dan meyakinkan si mister menjawab โ€œI think it was so easy, it wasn’t like you will climb the mountain.โ€ O_o Huhuhu, saya jadi membayangkan bagaimana gunung-gunung di Rusia, jika Ijen saja tidak ada apa-apanya buat si mister ini. Mungkin si mister ini waktu naik Ijen berasa kayak gerak jalan santai saja yakkk. Setelah merasakan sendiri tanjakan Ijen, pelajaran moral dari pertemuan kami dengan si mister ini adalah โ€œPendapat bule tentang gunung itu nisbi.โ€ โ“ Naik gunung itu adalah salah satunya adalah soal fisik. Nah, coba deh secara umum bandingin fisik kita sama orang-orang barat sana. Ibarat Giant dibandingin sama Nobita. Hehehe, peace. Kalau ada bule bilang ngedaki Inca ke Machu Picchu itu susah, percayalah deh sepercaya-percayanya kalau itu bakalan susah buat kita orang Timur. Beda yah kalau mereka bilang alaaaa Ijen itu gampang, jangan buru-buru percaya dulu, karena salah satu korbannya adalah yang lagi nulis postingan ini ๐Ÿ˜ฅ

Kita kembali ke Ijen yah, kami sampai di bibir kawah Ijen pukul 05.00. Langit mulai terang dan gagallah kami memburu blue fire yang legendaris itu ( I am so sorry friend ๐Ÿ˜ฆ gara-gara saya kebanyakan minta break, kita malah lama di jalan). Puncak Ijen ramai, ramai dengan wisatawan karena weakend dan ramai dengan penambang yang lalu lalang memikul keranjang. Kabut dan asap masih menutupi pandangan, namun ketika matahari mulai muncul malu-malu di balik puncak merapi dan perlahan-lahan kabut melipir pergi terpampanglah semua keindahan itu di depan mata. Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Danau raksasa dengan air hijau toska serta tebing-tebing bergurat kokoh nan angkuh. Disisi lain, puncak raung mencuat selimuti cincin awan. I feel like i was in another world. Diri ini lalu merasa kecil sekali di puncak Ijen. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat keindahan ciptaanNya.

ijencrater

IMG_20140601_060827

a

DSC_0573


Setelah puas di puncak Ijen, kami turun. Di pagi hari medan yang kami lalu terlihat jelas. Pemandangan juga tak kalah indahnya. Di samping jalan adalah tebing berbatu yang tidak terlalu curam. Di sisi sebaliknya, saya bisa melihat pemandangan lembah dan Gunung Raung berdiri berdampingan. Ada juga spot seperti hutan mati. Namun yang paling membuat tidak percaya ternyata tanjakan yang kami lalui semalam nanjaknya benar-benar minta ampun. Yakinlah jika saya naik Ijennya siang, liat tanjakan hampir 40 derajat, pasti tidak jadi naik ๐Ÿ˜• Untung naiknya malam hari yakkk ๐Ÿ˜€

DSC_0488

ubah

Nah, perjalanan turun memang tidak sengos-ngosan naiknya cuma lebih pegal gara-gara kebanyakan ngejinjit dan ngerem-ngerem serta kebanyakan ngetawain orang dan diri sendiri yang terpeleset dan jatuh. Tanjakan-tanjakan yang kami lalui semalam berubah menjadi turunan berpasir yang tentunya menjadi licin. Kalau kata teman saya, jalannya harus mirip teknik jalan pinguin atau jalan teletubbies ๐Ÿ˜› Kami turun tidak sendirian banyak turis mancanegara juga mulai turun dari puncak Ijen. Nah, seperti yang saya bilang sebelumnya jangan bandingkan fisik kami sama fisik bule-bule ini. Mereka jalannya cepat sekali, langkahnya dua kali dari langkah kami, enteng saja menuruni tanjakan seperti loncat-loncat di taman bermain. Jangan pikir bisa ngejar bule ini yah, setelah melewati satu belokan mereka sudah menghilang dan muncul di kejauhan sana, di ujung belokan lainnya. Huhuhu…, jangan-jangan mereka siluman. Heheh ๐Ÿ˜†

IMG_6939

Ternyata semakin matahari merambat naik semakin banyak pengunjung yang naik Ijen. Kebanyakan pengungjung lokal ternyata membawa anak-anak mereka ๐Ÿ˜ฏ Hohohoh…, gemes rasanya liat anak-anak ini yang senang-senang saja ngedaki sambil lari-lari di tanjakan. Asal kamu tahu yah dek, semalam saya ngeluhnya minta ampun lewat tanjakan itu ๐Ÿ˜ฅ

20140601_084755

Sampai di Paltuding, pos awal pendakian maka berakhirlah cerita saya naik ke Ijen. Next time saya mau cerita tentang manusia-manusia super dari Ijen, penambang-penambang belerang tradisional. Semoga saya masih diberi ilham untuk nulis lagi yakk… Heheh.

From travel I learned. Betapa menyesalnya saya jika memang dulu saya memilih untuk tidak ikut dan memutuskan untuk pulang. Saya mulai berpikir bahwa segala ketakutan dan kecemasan itu justru semuanya hanya ada di dalam kepala. Semakin kita tak mampu untuk melawannya maka semakin lama ia bersemayam disana dan lama kelamaan dia akan menguasai pikiran kita. Berdiri di puncak Ijen memberi sesuatu pelajaran baru bahwa โ€œconquer your fearsโ€. Yahh conquer your fears because twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. Atau tak perlu menunggu sampai dua puluh tahun akan datang, sekarangpun saya pasti akan menyesal.

Saya masih ingat kata-kata teman saya seusai mendaki, dengan wajah berbinar dan logat Jakartanya ia bilang. โ€œNaik gunung asik kan Tin. Enak kan? Lo memang pasti berasa capek pas ngedakinya. Tapi pas lo nyampe di puncak capek kebayar.โ€ Yeah, youโ€™re right. Terima kasih yah udah diajak dan dijagain waktu naik Ijen

And finally I’ve left my heart in this place. Kalau ditanya mau nggak naik Ijen lagi. Mauuuuuuuu ๐Ÿ˜† Asal jalannya pelan sajayah, biar capeknya tidak berasa dan pada kesempatan lain saya ingin melihat legenda Ijen. Api biru. Hehehe

DSC_0467

Thanks Team ๐Ÿ™‚

PS:

  • Ini rahasia yah. Sebenarnya api biru itu ada banyak loh di dunia bukan hanya di Indonesia dan Islandia saja. Mau tahu? Coba deh kalian ke dapur trus nyalain kompor gas. Liat, apinya biru kan? Hehehe… just kiddingย  :mrgreen:
  • All photos were taken by me and my friends. Saya ijin post foto kalian yah, yah, yah. Diijinin yah? oke, horeee diijinin… Terima kasih…ahahaha

How go to Pare?

Time flies, isn’t it? Huahh…, sudah bulan Agustus saja, artinya sudah lama saya tidak ngepost dan blog ini sudah seperti tidak berpenghuni *ambil kemoceng, bersih-bersih sarang laba-laba.

I wanna share my little adventure. Jadi, Mei kemarin, saya ke Paris. Yuppp, Paaarisss O_o . Eiffel? Louvre? Seine Cruise? Bukan!!! Karena Paris yang saya maksud adalah Pare Kampung Inggris, Kediri, Jawa Timur. Hohoho peace (*lalu komat-kamit, berdoa bisa ke Paris beneran)

Cerita ini berawal dari perjalanan dua anak manusia yang hendak mencari kitab suci (*digetok pake palu). Ok, I’m trying to beย serious now.ย  Saya ke Pare bersama seorang teman saya. Kami berencana untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama 1,5 bulan. Kampung Inggris adalah sebutan untuk desa Tulungrejo, Pare, Kediri. Lembaga kursus yang tersebar di tempat ini angkanya sudah hampir 200 dengan masing-masing keunggulan yang mereka tawarkan.
Lalu mengapa harus jauh-jauh ke Pare? Ada yang bilang bahwa apa yang ditawarkan lembaga-lembaga kursus di Pare tidak ada duanya, dalam artian kalian tidak akan menemukan gaya pengajaran yang sama di lembaga-lembaga kursus lain karena pengajaran di kursusan di Pare punya sistem yang dibuat secara khusus untuk pendatang supaya mereka bisa belajar bahasa inggris yang mudah dan cepat dalam waktu singkat.

Bagaimana bisa sampai ke Pare? Ini pertanyaan sebagian besar mereka yang ingin ke Pare untuk pertama kalinya. Semoga tips diberikut bisa membantu.

  1. Karena saya di Makassar, maka starting point saya adalah Bandara Juanda. Jadi pastikan pesawat yang kalian tumpangi mendarat di bandara Juanda ๐Ÿ˜› Jika mendarat di bandara lain, maka carilah pesawat yang mendaratnya di Juanda. Ingat ya, Juanda, bukan yang lain. Jika tidak, maka sayang sekali saya tidak bisa membantu kalian. #edisingotot
  2. Naik Damri Bandara menuju terminal Bungorasih Surabaya. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit.
  3. Sesampainya di terminal Bungorasih kalian perlu ekstra waspada. Jangan sekali-kali menyerahkan barang kalian ke orang yang tak dikenal karena akan banyak orang yang berkerumun memaksa membawa barang-barang kalian. Jangan khawatir mereka bukan maling apalagi tukang hipnotis, mereka adalah porter. Hindari menggunakan jasa mereka, karena biasanya mereka akan mengenakan tarif yang sangat mahal. Jika barang bawaan kalian cukup banyak dan memerlukan jasa porter kalian bisa melakukan tawar-menawar tarif jasanya dulu.
  4. Jika kebingungan mencari bus yang akan ditumpangi ke Pare, saran saya naiklah bus Rukun Jaya tujuan Pare-Blitar.
  5. Masuk ke dalam terminal akan banyak lagi calo yang menawarkan jasa mereka. Sebisa mungkin jangan pasang muka kebingungan, pasanglah muka cuek bin jutek bin meyakinkan seakan kalian hapal mati isi google map. Bilang saja kalian mau ke Pare naik Rukun Jaya. Mereka akan bubar mendengar kalian memiliki tujuan yang jelas. Jika kalian tidak tahu arah, maka jangan segan-segan bertanya ke petugas DLLAJ terminal.
  6. Bus Rukun Jaya berukuran 3/4 warna biru. Jika masih ragu jangan malu bertanya. Bilang saja kalian ingin ke Kampung Inggris Pare.
  7. Setelah di dalam bus kalian hanya perlu duduk manis menikmati perjalanan sekitar 2-3 jam. Selama pemberhentian akan banyak penjaja makanan, pernak pernik, buku, baju, buah hingga peralatan sekolah yang hilir mudik seperti peragawati yang jalan di catwalk (baca: lorong bus). Jumlah mereka banyak sekali sampai-sampai mereka bisa diajak main ular naga. hehehe. Sebagian dari mereka menitipkan beberapa barang dagangannya ke penumpang bus. Jangan kaget, abaikan saja jika kalian tidak mau membelinya, sebelum bus berangkat mereka akan mengambil barang tadi.
  8. Selain berbagai jenis penjaja dagangan, pengamen jugaย  tak kalah banyaknya. Tak ada salahnya membagi satu dua receh, lagian suara mereka lumayan bagus. Diakhir lagu biasanya mereka mendoakan penumpang agar sampai dengan selamat di tempat tujuan. Nah, bagian ini nih yang tidak saya temukan di Makassar. Mereka biasanya langsung main kabur saja setelah mendapat receh.
  9. Kalian akan turun di perempatan Tulungrejo. Tulungrejo inilah yang dijuluki kampung Inggris. Kalian naik becak, bilang saja ingin turun di lembaga mana, jika kalian belum ada tujuan biasanya kamu akan di turunkan di perempatan BEC / perempatan Mahesa.
  10. Sedikit tips sebelum ke Pare banyak-banyaklah mencari informasi pada orang yang pernah berkunjung ke Pare sebelumnya atau tidak ada salahnya kalian bertanya ke si embah kita. Mbah Google yang serba tahu. O_o
  11. Jika tak mau repot kalian bisa menggunakan jasa travel yang bisa menjemput kalian di bandara Juanda dan mengantar kalian sampai tujuan dengan tarif yang lebih mahal pastinya.

P.S : Perjalanan saya ke Pare untuk pertama kalinya ini, tidak akan berjalan lancar tanpa adanya bantuan patner perjalanan saya yang sudah pernah ke Pare sebelumnya (baca: 99% saya akan tersesat jika nekat pergi sendirian). Izinkanlah saya menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada patner perjalanan saya. ๐Ÿ˜› Arigatou….

Satu Puzzle telah Tersusun

Sudah lama saya tidak memposting sesuatu lagi di blog ini. Terakhir postingan saya sekitar awal Desember tahun lalu. Nah, kemana saja saya menghilang selama rentang waktu itu?ย  Saya sedang menyusun TA. Ya TA, alias tugas akhir, alias skripsi, yang berarti sebentar lagi saya akan dapat gelar sarjana (meskipun ketika menulis postingan ini saya sudah mendapat gelar itu :D).

Sebenarnya telah lama saya ingin menulis cerita ini, ketika euforia pasca yudisium masih melekat. Saya memulai menyusun tugas akhir ini awal Desember 2013 lalu. Ada banyak kejadian dan cerita yang saya lalui selama rentang waktu itu. Percayalah bahwa selama menjadi mahasiswa yang masuk kelas, kuliah, kerja tugas, asistensi, bolak balik masuk lab, UTS, UAS, pengerjaan skripsilah yang merupakan bagian terberat. Saya pun merasakan hal demikian dan saya tidak sendiri. Beberapa teman saya pun merasakan hal yang sama. Segala macam kekhawatiran seperti mengepung. Pernah saya tidak menyentuh skripsi saya selama beberapa hari. Pernah pula saya ke toko buku, niat awal mencari buku referensi namun pada akhirnya saya berkeliaran di jejeran buku motivasi, membolak-balik lembarannya mencari kata-kata bijak yang bisa mengusir kekhawatiran saya. Dan…. saya tidak sendirian, ketika membuka facebook, timeline saya sering kali dipenuhi jejeran status dengan icon ๐Ÿ˜ฅ diikuti kata-kata berbau motivasi pantang menyerah dari teman-teman saya. Bahkan ada yang berfikir mengajukan judul skripsi baru setelah ujian proposal, ada pula yang subuh-subuh bertanya tentang bagaimana tata cara shalat dhuha. o.O

Pada akhirnya, semua membutuhkan proses dan jatuh, terpeleset, tersandung bahkan tersungkur adalah mutlak bagian dari proses itu. Namun satu hal yang terpenting, adalah bagaimana kita bangun dan bangkit setelah kita terjatuh. Karena satu kali saja kita memutuskan benyerah pada titik itu, maka pada titik itu pula semua harapan akan pergi, menjauh kemudian menghilang. Salah satu hal yang terlintas dalam pikiran saya bahwa tugas akhir tidak hanya ujian untuk menyelesaikan pendidikan di universitas atau ujian untuk mendapat gelar akademik, namun proses penyusunan skripsi juga merupakan ujian tentang bagaimana memaknai kehidupan, bagaimana semangat pantang menyerah, bagaimana bersabar, bagaimana berusaha, bagaimana kita menilai dan melihat kehidupan dari berbagai sisi hingga akhirnya rasa syukur tak berhenti terucap bahwa Continue reading

Menyentuh Toraja Sekali Lagi, The Land of Death

Tak cukup rasanya jika menikmati tempat ini sekali saja. Selalu tertinggal keinginan untuk kembali dan kembali lagi. Keinginan untuk menginjakkan kaki di bumi Lakipadada. Apa yang tersimpan dibawah langit tempat ini seperti sebuah magnet untuk mengungjunginya lagi. Patricia Schultz, seorang jurnalis dan penulis, bahkan memasukkan tempat ini sebagai “1000 Places to See Before You Die” dalam bukunya. Bumi Lakipadada, Tana Toraja seperti secuil nirwana yang jatuh ke bumi, sebuah tempat yang tidak hanya menyuguhkan bentang alam yang memukau namun juga menyimpan akar tradisi budaya yang kental. Tradisi yang dipegang dan dijaga erat secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Tradisi tentang kematian yang harus dirayakan.

Saya pertama kali mengungjungi tempat ini di tahun 2011. Bukan sekedar sebuah liburan tetapi dalam rangka study tour budaya dari kampus saya. Sebuah pilihan yang tepat untuk menyelami budaya kental masyarakat Toraja. Dua tahun berselang, keinginan untuk kembali ke tempat ini masih ada. Seolah ingin mencari kembali jejak kaki yang saya tinggalkan dua tahun lalu dan menyentuh alam serta budayanya lebih dekat lagi. Toraja tetap mendapat ruang tersendiri bagi saya. Aneh memang, bukankah di tempat ini bisa membuat bulu kuduk merinding? Sebuah tempat dimana kita menyaksikan kematian lebih dekat. Bagi yang ingin melihat tulang belulang manusia, disinilah tempatnya.

Destinasi wisata tersebar sepanjang poros Makale-Rantepao. Makale adalah ibukota dari Kab. Tana Toraja dan Rantepao adalah ibukota Kab. Toraja Utara yang merupakan pemekaran dari kab. Tana Toraja. Di pusat kota Makale anda akan menemukan patung Lakipadada di berdiri ditengah-tengah danau Makale. Penginapan saya tidak jauh dari danau ini.

Patung Lakipadada | Danau Makale

Patung Lakipadada | Danau Makale

ย 

Di Toraja sendiri diperkirakan ada 70 spot wisata yang bisa dikunjungi, mulai dari wisata budaya seperti tongkonan atau makam-makam hingga wisata alam. Menyambangi tempat-tempat tersebut tentu saja tidak mungkin dalam hitungan hari, namun ada beberapa spot wisata utama yang kerap dikunjungi wisatawan di daerah ini. Beberapa yang sempat saya kunjungi dua tahun lalu adalah, desa Kete Kesu, makam batu di Lemo, Londa serta Baby Grave di Kambira.

1. Desa Kete Kesu

Barisan Alang di Kete Kesu


Barisan Alang di Kete Kesu

Continue reading

Hujan Meteor Orionids, 21-22 Oktober 2013

Ada yang pernah mendengar hujan meteor? Hujan meteor adalah sebuah peristiwa alam, dimana pada saat itu terdapat meteor yang meluncur masuk ke dalam atmosfir bumi dan jumlahnya yang sangat banyak. Jika diamati di bumi, meteor yang jatuh akan terlihat seperti benda-benda yang berkedip di langit. Kira-kira seperti letusan kembang api. Peristiwa ini bisa kalian saksikan tanpa teleskop atau alat astronomi lainnya di langit sebelah timur pada 21-22 Oktober 2013 pukul 22.00. Hujan meteor tersebut diberi nama hujan meteor Orionids. Orionids sendiri diambil dari rasi bintang orion karena hujan meteor tersebut seolah-olah seluruh meteornya berasal dari rasi bintang tersebut. Tetapi sebelum berburu meteor, ada review menarik dari kafeastronomi.com. Check it out.

Rasi bintang orion tergolong rasi bintang yang cukup mudah untuk diamati dilangit malam pada malam-malam bulan tertentu yaitu bulan Juni hingga Januari. Dengan mencari dan menemukan 3 bintang sejajarnya yaitu alnitak alnilam dan mitaka serta si bintang tua betelgeuse yang berwarna kemerah-merahan, anda akan dengan mudah mencari bintang-bintang lain yang membentuk formasi dari rasi bintang orion. Lantas apa spesialnya kita membahas rasi bintang ini? Ya sangat spesial dimalam ini yaitu malam 21 oktober hingga 22 oktober, kembali sebuah fenomena alam akan terjadi disekitar rasi bintang orion. Fenomena apakah itu? Tentu saja fenomena itu tak lain adalah hujan meteor.

Mengulang kisah di masa lalu, terdapatlah sebuah komet periodik ditahun 1986 melayang melintas memotong orbit bumi kita di luar angkasa. Nama komet ini adalah komet Halley. Ditahun 1986 komet halley melintas dan memotong orbit bumi kita diluar angkasa. Seperti yang kita ketahui bersama, komet bukanlah benda langit yang kuat melainkan benda langit yang amat rapuh. Berbeda dengan asteroid dan planet kerdil yang tercipta atas material-material kuat, komet terdiri atas material rapuh seperti tanah, es, lumpur dan senyawa-senyawa kimia lainnya. Sehingga saat angin matahari menerjang tubuh komet, spontan seluruh material yang ada ditubuh komet akan bereaksi dan terlepas keluar tubuh komet hingga mulai membentuk kepala komet (koma) serta ekor komet yang memanjang ribuan kilometer. Ekor komet yang tercipta oleh reruntuhan material yang terlepas keluar angkasa tidak serta merta mengikuti tubuh sang komet melainkan tercecer dan tertinggal di jalur yang dilalui sang komet saat mengelilingi matahari. Sehingga ceceran dari material-material lemah ini akhirnya mengotori bagian orbit bumi yang dilewati oleh komet halley ditahun 1986. Kini 27 tahun telah berlalu semenjak komet halley melintasi orbit bumi kita, ceceran-ceceran material masih tersisa dan pada tanggal 21 oktober 2013 ini kembali bumi kita melintasi orbit yang dulu pernah dilewati oleh komet halley. Saat bumi melintas, gravitasi bumi akan menarik material reruntuhan komet kearah permukaan bumi. Material yang tertarik akan memasuki atmosfer dan terbakar sehingga menimbulkan cahaya yang sangat terang dan dapat dilihat oleh kita. Kilauan cahaya yang dapat kita lihat inilah yang disebut sebagai meteor. Lantas bagaimana dengan istilah hujan meteor? Istilah hujan meteor merupakan istilah yang digunakan saat meteor dalam jumlah yang banyak terlihat dilangit dalam satu malam. Hujan meteor yang terjadi malam ini disebut dengan hujan meteor orionids karena hujan meteor tersebut seolah-olah seluruh meteornya berasal dari rasi bintang orion.

orionRasi Bintang Orion (sumber: stellarium)

Menurut data yang diambil dari IMO atau International Meteor Organization, puncak hujan meteor orionids di Indonesia akan jatuh pada malam tanggal 21 Oktober hingga 22 oktober 2013. Hujan meteor hanya dapat dilihat menggunakan mata telanjang sehingga tidak dibutuhkan teleskop maupun peralatan astronomi lainnya. Intensitas hujan meteor akan mencapai hingga 20 meteor perjam. Hujan meteor diperkirakan dapat anda amati semenjak rasi orion muncul di ufuk timur pada pukul 22.00 hingga terbitnya sang mentari. Namun sayangnya bulan yang baru saja mengalami fase purnama dan pada 21 oktober bulan terbit pada pukul 18.44 WIB hingga terbenam 06.49 WIB, dapat dipastikan cahayanya akan mengganggu jalannya pengamatan hujan meteor sehingga hanya meteor-meteor terang saja yang akan tampak pada hujan meteor orionids ini.

Sumber: kafeastronomi.com, stellarium

Ketika Sakit Datang…

Sehat itu mahal, dan ketika nikmat sehat itu dicabut, terkadang kita baru sadar bahwa sehat adalah pemberian yang tak ternilai harganya… Kronologinya sabtu pagi kemarin berasa ada yang sedikit mengganjal di kepala, ditambah bersin berkali-kali. Tetapi karena sudah terbiasa bersin-bersin di pagi hari karena rinitis alergi dengan cuaca dingin, maka tidak kuhiraukan. Paling bersinnya hilang setelah cuaca mulai hangat. Pertimbangan yang lain juga karena jauh-jauh hari saya sudah planning untuk datang ke suatu acara. Nah, sekitar jam 12 acaranya kelar, langsung pulang ke rumah dan ternyata bersin-bersin saya tidak hilang, malah tambah parah, hidung tersumbat dan mata berair. Saya kena flu? Ya, ini memang gejala flu.

ย 

Senin pagi tenggorokan sakit, sangat tidak enak jika menelan, tentu saja hidung tersumbat, kepala pusing tetapi tetap saya paksakan untuk bangun. Niat tidak ke kampus? Orang rumah sudah bilang untuk istirahat saja di rumah. Namun, sayangnya saya adalah mahasiswa rajin yang tetap pergi ke kampus walau ada hujan badai (jangan percaya :p). Hari itu ada tugas project yang harus saya presentasikan, jadi saya paksakan ke kampus. Anehnya di kampus saya merasa agak baikan meskin kepala masih terasa pusing. Niatnya ingin cepat pulang setelah presentasi project, malah harus ngurus formulir untuk kkn sampai tengah hari – yang tanpa sepengetahuan saya, ternyata formulir tersebut sudah diurus oleh teman saya sebelumnya. But, it’s Ok. Alhamdulillah, saya tidak perlu mengantri.

ย 

Pulang ke rumah, badan mulai semakin aneh. Kepala sakit, lebih tepatnya seperti dipukul pakai pake palu (heheh, bagian ini saya hiperbola, kepala saya belum pernah dipukul pake palu, tapi serius sakitnya) seluruh badan pegal, hidung tersumbat. Saya perlu minum obat, pikir saya. Saya menemukan dua tablet asam mefenamat di kotak obat. Loohh, apa hubungannya asam mefenamat dengan flu? Yang jelasnya setahu saya, asam mefenamat dapat menghilangkan sakit kepala. Belum sempat tablet itu saya telan, Orang rumah menegur. Jangan selalu tergantung sama obat katanya. Kalau sakitnya masih bisa ditahan, mending tidak usah makan obat. Haalaaahh, masih bisa ditahan? Continue reading

Tentang Buku di Hari Buku

23 April kemarin adalah hari buku. Well, Happy world book day and now i’m going to talk about book. Saya suka buku dan kadang suka baca buku yang saya suka, tapi lebih tepatnya saya suka mengumpulkan buku. Suka buku dan suka baca buku ternyata jauh berbeda. Tentu saja beda, ada kata kerja baca yang mendahului kata buku. Berbeda dengan kalimat saya suka buku yang langsung mengarah ke objek benda yang ditunjuk.ย  Namun, lebih dari aturan sintaksis yang membedakannya, ternyata seseorang yang suka baca buku dan suka baca buku juga sangat berbeda. Mungkin seseorang yang suka membaca buku akan mendapat pengetahuan yang lebih dari hobinya membaca tetapi belum tentu dengan orang yang suka buku. Mereka membutuhkan sesuatu yang melebihi informasi yang ada di buku itu. Bahkan, bagi sebagian kecil orang yang masuk ke dalam golongan ini (INI HANYA TERJADI PADA SAYA), buku bisa membuat derajat lurus kewarasan mereka bisa bergeser beberapa derajat. Selanjutnya agar lebih mudah membedakan kedua golongan ini, saya akan memakai istilah golongan pertama bagi mereka yang suka baca buku dan golongan kedua bagi mereka yang suka buku.

image

Continue reading